Jabar Harus Berbenah Diri Untuk Mencapai Ketangguhan Dalam Bencana ( HKB 2022 )

Bandung, Viralbanyumas.com Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) tahun ini mengangkat tema “Keluarga Tangguh Bencana Pilar Bangsa Menghadapi Bencana”. Hari Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2022 diperingati pada 26 April sebagai peringatan disahkannya Undang-Undang No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana Jawa Barat melalui Peraturan Gubernur Nomor 1 Tahun 2020 tentang Peningkatan Kapasitas Budaya Masyarakat Tangguh Bencana di Daerah Provinsi Jawa Barat, dimana point pertama berfokus kepada pengembangan Jawa Barat Resilience Culture Province (JRCP) ini adalah Resilience Citizen dengan strateginya adalah menguatkan ketangguhan masyarakat dan komunitas dengan cara mengarusutamakan pengurangan risiko bencana agar masyarakat sadar tentang risiko bencana, mampu memberdayakan diri dan lingkungan sekitarnya pada setiap tahapan bencana, memahami dan melestarikan kultur dan kearifan lokal terkait kebencanaan, aktif dan kontributif dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana serta pengurangan risiko bencana.

Dalam Rapat Kerja Daerah Perkumpulan Pendekar Pencak Silat Indonesia se-Jawa Barat (6/02/2022), Cakra sebagai salah satu narasumber pada rakerda tersebut sempat bertanya kepada para peserta yang berasal dari DPD PPPSI se-Jabar. “Apakah peserta sudah pernah mendengar tentang Jawa Barat BerBudaya Tangguh Bencana?” tanya Cakra. Namun tidak ada seorang pun dari peserta yang menjawab pertanyaan Cakra dan seolah menunjukkan sikap bahwa mereka tidak pernah tahu menahu tentang apa itu Jawa Barat Resilience Culture Province.

Jika kebanyakan peserta menyatakan tidak pernah tahu tentang Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 1 Tahun 2020, itu artinya bahwa program yang telah di tetapkan melalui Pergub tersebut masih lemah dalam sosialisasinya kepada masyarakat. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa pemerintah kota, kabupaten lainnya di Jawa Barat masih ada yang belum mengetahui dan mendapat sosialisasi terkait JRCP.

“Rumah Gagasan telah menginisiasi sebuah program 5 Juta Jawara Tangguh Bencana di Jabar sebagai wadah Bela Negara yang berkolaborasi dengan beberapa organisasi,” ungkap Cakra.

“Sebagian besar anggota Jawara Tangguh Bencana adalah para pelaku beladiri tradisional khas Indonesia sebagai kelanjutan pengembangan dari diterimanya Pencak Silat oleh Badan Dunia PBB UNESCO, dan pembentukan Jawara Tangguh Bencana telah mendapat dukungan penuh dari Didin As. Suhana (Kang Alit) yang merupakan Penggerak pertama Pencak Silat di KWRI UNESCO Paris Perancis,” tambahnya.

Dalam kesempatan lain Cakra-pun menyebutkan juga bahwa beladiri yang dimaksud oleh Jawara Tangguh Bencana bukan hanya sebatas membela diri dari ancaman serangan dari lawan, akan tetapi membela diri sendiri, keluarga dan sekitarnya dari potensi yang mengancam keselamatan mereka, yakni bencana.

“Prosedural yang berbelit-belit dan sangat lambat dari Pemprov Jabar juga menjadi suatu hambatan ketika masyarakat dan komunitasnya berupaya untuk berperan aktif dan kontributif untuk melakukan penyelenggaraan penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana dalam bentuk kemitraan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkesan asyik dengan program dan timnya sendiri, padahal salah satu elemen Pentahelix kebencanaan adalah unsur masyarakat secara luas bukan terbatas,” tegas Cakra.

Pada praktiknya masih banyak masyarakat yang masih belum mengerti karya atau tulisan yang dihasilkan oleh para akademisi dan atau peneliti.

Mungkin hal itu disebabkan karena penggunaan istilah atau bahasa yang digunakan dalam kegiatan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat “terlalu mengawang-ngawang” (sulit dicerna,red), sehingga masyarakat menjadi bingung dan kurang bisa memahami tujuan dari sosialisasi tersebut.

Cakra mengutip tulisan Prof.DR. Koentjaraningrat, bahwa bahasa adalah unsur dari kebudayaan. Sehingga pertanyaan berikutnya adalah apakah di institusi perguruan tinggi ataupun para peneliti memahami bagaimana budaya itu secara luas ?, bagaimana mungkin para akademisi dan penelitinya dapat melakukan pendekatan secara kearifan lokal/ budaya setempat jika mereka tidak memahami tentang Budaya?.

“Jadi Jabar Ber-budaya Tangguh Bencana ini diharapkan tidak hanya menjadi program yang tidak lanjut dan kelanjutannya menjadi samar dengan penggunaan anggaran yang tidak sedikit jumlahnya sedangkan pencapaian tujuan kurang dirasakan oleh masyarakat Jabar Perlu pembenahan yang lebih baik dari pemerintah provinsi Jawa Barat terlebih dahulu, selanjutnya masyarakat Jawa barat akan dengan mudah mengikutinya jika diberikan contoh yang baik dari pemerintahnya,” tegas Cakra sekaligus menutup wawancara dengan wartawan hari ini. ( Red )

banner 300x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *